AKULAH PANCARAN
BERKAT-NYA
Ceria,
usil, dan penuh tawa, mungkin itulah yang didapati orang lain di dalam diriku.
Namun dibalik semua hal indah itu, aku menyimpan banyak beban yang tak seorang
pun dapat memahaminya. Ketakutan, ketidaknyamanan, dan bayang-bayang kematian
selalu melingkupiku. Hanya rasa pura-pura tegarlah yang dapat menutupi
kegusaranku.
Aku terlahir dari sebuah keluarga
yang sangat sederhana. Keluarga kecil yang penuh dengan kehangatan. Lelucon
kecil kerap terdengar saat kami berkumpul di sebuah ruang tamu yang luasnya
sepadan dengan kandang ayam. Namun di ruangan itulah banyak kenangan masa kecil
yang tak mungkin dapat aku lupakan.
Ayahku baru saja berhenti dari pekerjaannya
di sebuah perusahaan swasta dengan penghasilan minimal. Ibuku hanyalah seorang
ibu rumah tangga yang sangat perkasa. Sungguh aku tak pernah menemui wanita
setegar dirinya. Aku memiliki seorang kakak dan seorang adik yang menderita
penyakit autis sejak lahir.
Pagi itu berjalan seperti biasanya.
Tak ada suara ayam berkokok terdengar. Hanya suara teriakkan ibuku yang selalu
terdengar saat ia membangunkan anak-anaknya. Aku sempat geram ketika setiap
hari harus mendengar suara amarah itu. Namun aku tahu hal itu ia lakukan demi
kebaikanku juga.
Terik menyengat, bising keramaian
kota terdengar, dan peluh menetes mengalir didaguku. Ku kendarai sebuah motor tua yang selalu
mengantarku kemana saja. Motor itu baru dapat kumiliki saat kakakku memiliki
motor baru dan meninggalkan motor itu. Aku pulang kerumah siang itu, kemacetan
dan asap kotor kendaraan melingkupiku. Aku sampai di rumah dengan rasa lelah di
bahuku.
Aku merebahkan badanku di atas kursi
tua yang usianya hampir sama dengan usia adikku. Kulihat mata tua yang berbinar
memandangku, mata yang selama ini mengajarkanku tentang arti sebuah kehidupan.
Di tangannya terlihat segelas es teh yang sangat menggodaku. Ia mengobati
dahagaku saat itu. Penuh semangat aku meminum es teh yang dibuat dengan
ketulusan itu. Ia memandangiku, dan aku pun memandanginya. Ku pandangi wajahnya
yang mulai keriput dimakan usia.
Segelas es teh telah selesai
kuhabiskan. Aku pun bergegas ganti baju lalu tidur. Ibu menghampiriku di
kamarku untuk yang kedua kalinya. Dalam hatiku bertanya mengapa ia tak seperti
biasanya. Ia mengelus rambutku, lalu mengusap pipiku. Aku semakin curiga dan
aku berpikir pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku.
Dari bibirnya yang tipis, ia
berusaha untuk membuka mulutnya dan berucap.
“tadi
siang ibu baru pulang dari rumah sakit, nak.”
Aku
termenung, menerka-nerka apa yang ibuku lakukan di rumah sakit. Setahuku, ia
tidak memiliki sakit yang parah. Hanya saja ia sering masuk angin dan sesak
napas. Lalu aku bertanya dengan suara yang sok tegar.
“loh,
ibu sakit apa kok ke rumah sakit?”
Ia
tersenyum kecil seakan tak kuasa untuk berucap. Ia mengambil napas dalam-dalam
dan berkata dengan suara yang lirih.
“ibu
memiliki benjolan di payudara, kata dokter ini tumor, entah itu ganas atau
jinak.”
Jantungku
seakan tak berdetak lagi. Aku tak tahu apa yang harus kuperbuat. Dengan sikapku
yang berusaha tegar di hadapan ibu, aku hanya tersenyum dan berkata “semua akan
baik-baik saja.”
Rasa gelisahku tak kunjung hilang
hingga terik matahari berubah menjadi petang. aku segera mengirim pesan ke
beberapa teman dekatku yang berkeyakinan sama untuk meminta doa atas penyakit
ibuku. Kebetulan aku ikut organisasi persekutuan doa di sekolahku. Hari-hariku
terasa tak ada semangat. Belajar enggan, makan enggan dan mandi pun enggan.
Beberapa hari kemudian semangatku
kembali seperti semula. Aku menjalani semuanya layaknya tak ada beban di
pundakku. Hingga sepulangku dari sekolah, aku melihat ibu sedang menahan air
mata yang jatuh ditengah-tengah pembicaraannya dengan saudaraku. Aku pura-pura
saja tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Hal itu kulakukan karena aku
tak mau meneteskan air mataku di depan ibuku. Aku tak mau menambahi beban
pikirannya.
Sore itu cuaca terasa bersahabat.
Hembusan angin membangunkanku dari tidur siangku. Seperti biasanya, aku lebih
banyak menghabiskan waktuku untuk SMS-an dengan teman-temanku. Ditengah waktuku
SMS-an, ibu menghampiriku dan berkata “hasil tesnya, ibu positif menderita
tumor ganas.”
Aku
berusaha menenangkan pikiranku dan dengan perlahan berkata “oh, trus mau di
operasi?”
“iya,
ibu harus operasi pengangkatan tumor ini secepat mungkin kalau tidak, akan
semakin bahaya karena ibu sudah berada di stadium 2.” Ucapnya dengan air mata
yang berlinang.
Sambil berusaha untuk tegar di depan
ibuku, aku mengirim pesan ke teman-temanku tentang hal tersebut. Aku melakukan
itu karena aku berharap apabila aku berbagi ceritaku, mungkin itu akan
mengurangi bebanku. Adzan maghrib terdengar, aku bergegas untuk mandi. Entah
perasaan dari mana yang timbul, tiba-tiba air mataku jatuh berlinang dan aku
seakan tidak bisa untuk menghentikannya.
Hari terus berganti dan aku pun
berusaha untuk menutupi rasa sedihku. Aku ingin menjadi Fenny yang ceria
seperti dulu. Aku ingin menjadi pancaran berkat untuk orang disekitarku. Banyak
teman dekatku yang menganggap aku sebagai seorang yang sok tegar. Namun aku merasa hal itu lebih baik karena aku masih
belum bisa tegar seutuhnya.
Hari itu hari Jumat. Di mana seperti
biasanya aku selalu sibuk persekutuan doa. Siang hari setelah pulang sekolah,
selalu ada persekutuan doa disekolahku. Dan aku merasa sangat terberkati di
persekutuan itu. Aku bersyukur aku
memiliki teman-teman seiman dan kakak pembina yang selalu membimbingku. Saat
aku bertemu dan bersekutu dengan mereka, bebanku serasa hilang sesaat.
Disetiap malamku, disetiap doaku,
aku selalu menyebut orang tuaku, terlebih berdoa untuk kesehatan ibuku. Dan air
mataku selalu menetes tiap aku menyebut namanya. Bayang- bayang ditinggalkan
oleh ibu selalu menghantuiku. Serasa aku tak tahu bagaimana nantinya kalau ibu
benar-benar sudah dipanggil Tuhan. Aku mau curhat ke siapa? Aku mau manja ke
siapa? Siapa yang sabar merawat adikku? Pertanyaan itu selalu hadir.
Memang selama ini hanya ibu yang
menjadi tempat curhatku. Mungkin dulu sewaktu aku belum menginjak remaja, aku
belum sedekat ini dengannya. Aku merasa sangat cocok dengannya. Ia mudah untuk
diajak bertukar pikiran walaupun terkadang aku masih kekanak-kanakkan saat
berbicara kepadanya.
Hanya ibu yang memberikanku izin
untuk pacaran. Sedangkan ayahku tidak mengizinkanku untuk pacaran. Alasannya
sih aku masih kecil, apalagi aku anak perempuan satu-satunya di keluarga ini.
Jadi ayahku sedikit protektif dengan pergaulanku. Karena hal itu, aku dan ibu
selalu sembunyi-sembunyi saat akan curhat tentang teman dekatku.
Hal
itulah yang membuatku masih takut untuk di tinggalkan oleh ibu. Aku ingat waktu
itu sekitar jam 2 pagi, aku terjaga dari tidurku. Disampingku ibu sedang tidur
nyenyak. Aku memandangi wajahnya beberapa kali. Di wajahnya mulai banyak kulit
keriput yang muncul. Ibu sudah mulai tua dan aku sudah beranjak untuk dewasa.
Aku ingin ibu melihatku sukses meraih cita-citaku. Entah saatnya nanti ia masih
berada disampingku atau berada di tempat yang sangat abadi.
Aku
sangat mengucap syukur kepada Tuhan untuk hidupku yang sangat indah ini. Aku
berjanji pada diriku sendiri untuk menjadi seorang perempuan yang tegar
seutuhnya. Hal itu kulakukan sebagai ucapan syukurku kepada Tuhan. Dan aku
ingin selalu berbuat sesuatu yang bisa membahagiakan orang lain. Karena aku
sadar, aku diciptakan didunia ini untuk menjalankan tugasNya dan menyenangkan
hatiNya. Menjadi pancaran berkat untuk banyak oranglah yang selalu aku
dambakan.





0 komentar:
Posting Komentar